I'm a SMASHBLAST and a MORGANOUS
and I'm Proud of It!!
Start ur day with SMILE and LOVE and don't forget to spread the PEACE
PS: don't forget to follow my twitter @chachyalichya
just mention and i'll follow you back right away :D
and one more thing! don't forget to leave a comment okay!! because it really means a lot for me! :D #peace

29 Nov 2011

apologize

aigooo~ mianhae everyone!!
i know that i've been a bad bad writer because keeping you all waiting for the next part
so sorry!! bukannya gak mau lanjutin cepet-cepet, tapi untuk part ini banyak halangan dalam proses pengerjaannya, mulai dari gue sering sakit, (sekolah aja sering gak masuk) lalu koneksi internet yang ampun2an sampe file gue dari lappy gue ilang semua!! gaah bener2 bikin stress. dan lagi gue juga lagi mempersiapkan diri gue untuk lomba jadi gak bisa sering2 ngebuka lappy buat ngetik, -____-
dan soal lomba, gue bulan ini memutuskan untuk mengikuti lomba cerpen di sebuah majalah, mohon doanya ya everyone!! dan gue juga lagi mempersiapkan FF skali habis yang pasti bakalan gue post! ya kalo gak desember tengah ya akhir tapi pokoknya tahun ini pasti di post deh! promise!!
dan sekali lagi gue minta maaf baaaangeeeettt!!! karena udah membuat kalian semua nunggu lebih dari sebulan untuk ngebaca part selanjutnya. (yang gak nungguin ya udah gak apa)
dan gue janji untuk part2 selanjutnya bakalan lebih cepet, tapi mungkin gak bisa seminggu sekali ya
mungkin 2 minggu sekali, karena ya gue manusia biasa yang bisa kehabisan kata2 (kata2 loh ya bukan ide) untuk mengeksplorisasi ide di kepala gue. ide sih ada cuma gue bingung mesti gunain kata2 yang gimana, karena gue gak mau kalo gue mesti ngegunain bahasa yang menurut gue bakalan bikin bingung pembaca kayak blog yang nulis FF SMASH juga, (gak bakalan gue sebutin) itu namanya ngebikin pembaca susah dengan make bahasa ribet2. dan mungkin juga untuk next part gue bakal ngegunain bahasa yang 'agak' formal karena menurut gue itu lebih pantes :)
jadi enough ya bacotan gue kali ini, just enjoy reading my FF dan jang kapok2 ngunjungin blog gue lagi ya!
Ciao! peace out!

Diantara Kau dan Dia part 23


___Morgan’s Side___

“ So, Gisel, what do you  think? ” tanya gue saat berada di dalam mobil.
“ about what? About that cute little girl, who is it again? Cha-cha right? I think she looks nice, and friendly. But too scared to speak her mind. I bet she have a lot of things going around in her head to say to you. ” kata Gisel sambil tertawa kecil membayangkan Cha-cha dengan wajah betenya tadi, well mungkinkah Cha-cha cemburu melihat gue and Gisel? I guess so.
“ ahaha I have to agree with you. ” kata gue sambil tertawa hambar.
“ now let me ask you something. I’m courius, why is it everybody, I mean your friends all got the nervous look in their face? It’s like there’s something bothering their minds. Do you know about it? ” tanya Gisel penasaran.
“ ah! You know what? I don’t know, I’m as courius as you. I wonder what are those boys are thinking about. I bet it’s really serious. If it’s not the won’t make such nervous face back then. Do you know anything about it? ” ujar gue balik bertanya
“ Morgan! Kamu sebagai teman mereka saja tidak tahu! Apalagi aku! ” jawab Gisel dengan bahasa Indonesia formalnya bercampur logat Britishnya.
“ Gisel, you know i know that you wanna learn your parents first langguage but please just use it when you already become a master will ya? I can’t help it not to laugh everytime I hear you speak Indonesia. ” kata gue pelan dibalas dengan jitakan di kepala gue dan Gisel yang cemberut.
“ you’re so mean you know that. ” katanya sambil tetap cemberut yang hanya bisa gue bales dengan tertawa kecil.

___Rafael’s Side___

Gue baru sampe di depan rumah saat jam menunjukkan pukul stengah 4 sore dan handphone gue bergetar, ada telpon dari Mama. Gue lalu mengangkat telpon itu, belom sempat gue ngejawab, Mama udah heboh duluan.
“ Rafael! Lusa kamu jemput mama ya sayang! ” teriak mama diujung telpon.
“ what? Bukannya mama 2 minggu di sana? ” kata gue bingung.
“ Pekerjaan mama di sini selesai lebih cepat ternyata. Dan lagi mama gak betah lama-lama di NYC, di sini terlalu panas buat mama. “ oceh Mama panjang lebar.
“ okey ma. Rafael bakal jemput mama lusa di airport. Mama naik penerbangan seperti jam biasa kan? “ kata gue sambil menghela napas mendengar ocehan mama yang panjang namun gue rindukan itu.
“ iya, ah di sini sudah subuh, mama tutup dulu okey telponnya. Dan kamu Rafael Landry Tanubrata, jangan sampai kamu sakit. Jaga diri baik-baik dan jangan lupa jemput mama okey. Love you dear. ” ujar mama panjang lebar.
“ Ma! Before you hang up there’s something I wanna ask you. It’s really bothering me lately. ” kata gue ragu-ragu untuk berbicara lagi.
“  what is it dear? ” kata mama tenang.
“  ada cewek di sekolah Rafa, dia itu miriiiip banget sama mama, mulai dari sifat sampe wajahnya pasti bikin Rafa inget sama mama. Rafael bingung ma sama keanehan ini. Terus Rafael Cuma mau nanya, mama gak pernah selingkuh dari Papa and punya anak lagi kan? ” kata gue pelan dibalas dengan suara teriakan dan tawa pelan mama dari seberang.
“ Rafael…Rafael..! kamu lagi demam ya sayang? Gak mungkin lah mama selingkuh dari papa dan punya anak lagi. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tau, Raf. Ini tentang masa kecil kamu. ” balas mama pelan dan ragu.
“ yeah i know it sounds crazy. -___- but you don’t have to laughing like that. Masa kecil Rafael? Maksud mama? ” tanya gue bingung.
“ aah, mungkin sebaiknya mama emang udah harus nutup telpon. I’ll tell you as soon as i get back from NYC okey dear. Now take care Rafa. ” kata Mama sambil memutuskan koneksi, meninggalkan gue yang menantap layar iPhone gue dengan tampang bingung.
Mendapati bahwa ternyata gue masih di depan rumah, gue langsung masuk ke kamar, mandi dan mengurung diri gue sampe perut gue demo minta diisi. Gue lalu turun ke bawah mendapati ternyata para butler gue gak masak apa-apa! Minta dipecat banget nih para butler! Gue yang kesal pun langsung berlari beranjak masuk ke kamar lagi mengambil iPad, iPhone, dompet dan kunci mobil gue. Gue lalu beranjak menuju mobil Mazda 2 hijau gue yang terparkir di halaman depan. Setelah gue menyalakan mesinnya gue segera tancap gas dan menjalankannya menuju restoran Fast Food terdekat dari rumah gue. Gue turun dan membeli 2 buah burger, 1 kantong French fries ukuran besar, 1 chocolate milkshake dan 1 cappucino. *Iya! Tau! Banyak banget makannya! Bodo amat! Gue laper!* setelah selesai membeli makanan yang rencananya bakal gue bawa pulang, gue masuk ke mobil gue dan melirik jam yang ada di dashboard mobil yang menunjukkan angka 6:55 aah! Hampir jam 7! Apa gue ke rumah sakit aja? Lagian gue juga gak ada kerjaan di rumah. Okey kalo gitu gue bakal ke rumah sakit aja sekalian gue ngejenguk my lil’ sissy. Gak tau kenapa gue ngerasa harus berada di sebelah dia setiap saat. Bukannya gue suka sama dia ato apa. Tapi ini lebih kayak rasa tanggung jawab kakak ke adeknya sendiri. Gue lalu segera tancap gas menuju arah Mount E General Hospital yang kebetulan gak terlalu jauh dari situ. Kira-kira 15 menit pake mobil juga udah nyampe. Sesampainya di tempat parkir gue langsung turun dan melihat mobil Morgan terparkir manis di sebelah mobil gue. Gue lalu berjalan pelan sambil membawa bungkusan berukuran sedang yang berisi makanan yang gue beli tadi menuju kamar tempat Cha-cha dirawat. Sesampainya gue di depan kamar VVIP yang super luas tempat Cha-cha dipindahkan tadi sore itu gue lalu mengetuk pintu dan terdengar suara parau dan pelan milik Cha-cha menyuruh gue masuk.
“ Cocoh! Kok ke sini? Kan tadi Cocoh udah ngejenguk aku! “ kata Cha-cha yang suaranya terdengar riang itu terdengar sarat kepalsuan bagi gue, saat melihat gue melangkahkan masuk ke dalam kamar rawatnya. Gue hanya melihat Morgan yang duduk di sebelah ranjang Cha-cha sedang mengupaskan apel yang kayaknya dibawa oleh Morgan sendiri. Gue tau alasan sebenarnya kenapa suara Cha-cha sarat kepalsuan bagi gue, itu karena sebenarnya dia gak mau Morgan ada di sini sekarang, di saat dia sedang sakit parah, dia gak mau dikasihani oleh orang yang disayanginya.
“ oh, jadi Cocoh gak boleh ngejenguk lil’ sissy nya sendiri nih? Kalo Morgan boleh? Bagus ya kamu adek kecil. “ kata gue sambil menghampirinya dan mengacak rambutnya pelan dan meletakkan makanan gue di atas meja di samping tempat tidurnya. Saat gue duduk, saat itu juga Morgan langsung berdiri dan berkata hal yang gue yakin pasti akan menyakiti hati Cha-cha.
“ adek kecil, maaf ya gak bisa nemenin lama-lama. Koko udah ada janji sama Gisel buat ngajak dia makan di resto koko. Sekarang kan kamu udah ada yang nemenin, jadi koko pulang dulu ya manis. Koko pasti bakal dateng lagi kok. “ kata Morgan seraya mengelus pelan kepala Cha-cha yang tersenyum kecut.
“ ehm,.. iya gak apa kok koko. Koko kan udah punya janji sama temen koko itu. Koko juga gak harus maksain diri buat selalu jenguk aku kok. Aku gak mau ngerepotin koko lagi. “ kata Cha-cha dengan suara yang cukup kecil sehingga gue tahu bahwa Morgan yang gak peka sama sekali itu gak bakalan nyadar kalo Cha-cha lagi berusaha buat nahan tangisannya.
“ Cha-cha! Kamu kok bilang gitu sih? Koko gak ngerasa direpotin kok. Kenapa kamu bisa mikir kek gitu? “ kata Morgan seraya mencubit kedua pipi Cha-cha pelan dan tersenyum, berhasil membuat kedua pipinya memerah, malu.
“ gak kok, Cuma nanti gak enak aja ama koko. Ya udah koko kan udah ada janji, nanti telat loh. And thanks for coming here. ” jawabnya tersenyum lebih tulus.
“ okay then, I’m gonna go now. Raf, take care of Cha-cha okay. Bye you two. ” kata Morgan sambil berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar rawat Cha-cha. Setelah Morgan keluar, keadaan menjadi hening. Gue duduk di kursi tempat Morgan duduk tadi. Gue membuka bungkusan makanan gue dan menawarkannya pada Cha-cha, tetapi ia hanya menggeleng. Tatapannya hampa dan menderita. Gue akhirnya makan dengan perlahan. Nafsu makan gue udah menguap. Yang awalnya gue mau memakan habis semua yang udah gue beli tadi, gue hanya menghabiskan 1 burger yang gue beli tadi. Ternyata tanpa gue sadari airmata Cha-cha sudah mengalir pelan di kedua pipinya. Gue yang melihat Cha-cha nangis, spontan berdiri dan langsung memeluknya erat. Dan menenangkan dirinya.
“ hey sissy, why are you crying? Morgan? You don’t have to think about him. ” kata gue sambil menepuk-nepuk kepalanya pelan.
“ what? I don’t think about him, Cocoh. I just…I just… ” kata Cha-cha pelan, dia gak sempet menyelesaikan kalimatnya dan mulai menangis lagi.
“ you don’t have to lie to me. You know that you can tell me everything right? Just let it all out. ” kata gue sambil terus mengelus kepalanya pelan. Jujur gue gak tega kalo ngeliat cewek nangis. Apalagi ini Cha-cha yang nangis. Seakan gue ngeliat Mama yang lagi nangis.
“ Coh, apa Cocoh pernah ngerasain sekeras apapun Cocoh berusaha untuk jadi yang terbaik di depan orang yang Cocoh sayangin tapi tetep aja gak ada artinya di mata orang itu? Itu yang aku rasain sekarang. I feel that I’m worthless. Gak ada artinya. ” jelas Cha-cha, airmatanya mengalir deras di kedua pipinya. Matanya sarat kepedihan.
“ why do you feel that way? Kamu itu berharga Cha-cha! Gak ada orang yang gak berharga di dunia ini. Apa ini semua gara-gara Morgan? ” kata gue sedikit emosi. Entah kenapa gue ngerasa Cha-cha gak pantes nangisin Morgan.
“ salah satunya itu. Aku ngerasa aku udah buat sebaik mungkin untuk jadi a good girl tapi apa? Ko Morgan malah milih cewek lain! Ninggalin aku yang sebentar lagi bakal mati ini! Sendirian! ” kata Cha-cha sedikit histeris. Melihat Cha-cha yang seperti itu gue langsung beranjak berdiri dan memeluknya erat dan lama. Tangisnya pecah di dalam pelukan gue. Gue gak bisa melihat dia semenderita ini lebih lama lagi. Entah ada hubungan apa gue dengan dia, tapi gue bisa merasakan semua yang sedang dirasakan Cha-cha. Perasaan sesak dan terkoyak memenuhi hati gue, sesaat membuat gue gak bisa bernapas dengan normal. Seakan kepedihan ini merenggut oxygen kami, gue dan Cha-cha. Kalo Morgan menyebabkan semua perasaan terkutuk ini dirasakan oleh Cha-cha, gue gak bisa tinggal diam. Gue harus bertindak sesuatu! Gue gak mau ngeliat cewek serapuh Cha-cha terus disakitin hatinya karena mencintai seseorang. Meskipun orang itu sahabat gue sendiri. Tangis Cha-cha dengan cepat berubah menjadi isak pelan. Gue lalu mengangkat wajahnya sehingga gue bisa dengan leluasa menatap matanya. Gue menangkap kepedihan yang tak terlukiskan dari dalam kedua bola matanya. Mata coklatnya sarat dengan kepedihan dan dipeuhi dengan genangan airmata, membuat gue sesak menahan airmata yang memaksa menerobos keluar dari pelupuk mata gue. Gue lalu mengelus kepalanya pelan, merapikan rambutnya yang berantakan karena keringat dan berbisik pelan.
“ who says that you’re alone? You have me my dear sissy. You have your big sister and parents, there’s There, Bisma, Dicky, Reza, Rangga, Ilham. All friends that loves you and cares aout you. Dan kamu gak akan meninggalkan dunia ini. Enggak karena penyakit ini dan enggak dalam waktu dekat. Kamu harus janji untuk melawan penyakit ini okay. Untuk Cocoh? Untuk kami semua yang mencintai kamu. ” bisik gue parau, gue gak bisa menahan airmata gue yang daritadi sudah menerobos mencoba untuk keluar. Airmata gue turun dengan perlahan di kedua pipi gue. Gue membiarkan airmata tersebut menuruni pipi gue. Gue terlalu sedih untuk menghiraukan airmata bodoh yang sekarang menuruni pipi gue ini.
“ I promise, Coh. Tapi kalo ini semua udah kehendak Tuhan, aku Cuma bisa menerimanya dengan lapang dada. Dan makasih karena Cocoh udah care sama aku di saat yang lain gak. Aku bersyukur bisa ketemu dan kenal Cocoh. ” kata Cha-cha sambil tersenyum lemah, bibirnya pucat dan kering. Pipinya gak lagi bersemu merah melainkan putih dan ia terlihat rapuh sekali dengan kedua bola mata coklatnya yang sarat kesedihan dan kepedihan itu.
“ itu karena Cocoh udah nganggep kamu sebagai adik kandung Cocoh, dan Cha, please jangan pernah kamu bilang bahwa gak ada yang peduli sama kamu. Karena banyak yang peduli dan mencintai kamu dengan tulus. Janji? ” kata gue sambil mecoba untuk memberikan senyum, tapi sulit sekali.
“ iya, aku janji. Dan Cocoh, makasih karena udah nganggep aku sebagai adik. Aku juga menganggap Cocoh sebagai kakak kandung aku. ” katanya sambil memelukku erat.
“ it’s my pleasure my dear lil’ sissy. ” kata gue sambil mengecup pucak kepalanya dan mencoba untuk berbicara dengan nada senormal mungkin. Mencoba untuk menyembunyikan rasa kesal gue terhadap Morgan, rasa pedih yang gue rasain karena Cha-cha dan rasa sedih melihat cewek yang menurut gue berarti harus menghadapi cobaan seberat ini di umurnya yang masih sangat kecil.
Akhirnya setelah itu gue dan Cha-cha mencoba untuk tertawa bersama tetapi rasanya sulit sekali, lalu saat jam menunjukkan pukul setengah 10 gue pamit kepada Cha-cha dan kakaknya, Tita yang datang tidak lama setelah Cha-cha mencurahkan perasaannya, untuk pulang ke rumah. Setelah keluar dari kawasan rumah sakit, gue memacu mobil gue ke sebuah café di kawasan kemang. Morgan harus membayar apa yang udah dia sebabkan pada perasaan Cha-cha!!!

Kira-kira apa yang bakal diperbuat Rafael ke Morgan? Dan apa cerita tentang masa lalu Rafael yang akan diceritakan oleh mamanya? Dan apakah rencana Morgan, Rafael and Rangga untuk membuat Cha-cha cemburu masih akan berlanjut? Stay tune on my blog kay? Salam Cenat Cenut and Always be a SMASHBLAST!!! :D #RespectOthers